Orang Terkaya di Australia Minta Galeri Seni Hapus Lukisannya, tapi Ditolak

Orang Terkaya di Australia Minta Galeri Seni Hapus Lukisannya, tapi Ditolak

Orang terkaya di Australia, Gina Rinehart, meminta Galeri Nasional Australia (NGA) di Canberra untuk menurunkan lukisan potret dirinya yang dibuat oleh seniman Vincent Namatjira. Alasan permintaan tersebut adalah karena ia merasa terlihat tidak menarik dalam lukisan itu dan tidak ingin orang lain melihatnya.

Siapa Gina Rinehart?

Orang Terkaya di Australia Minta Galeri Seni Hapus Lukisannya, tapi Ditolak
Orang Terkaya di Australia Minta Galeri Seni Hapus Lukisannya, tapi Ditolak

Gina Rinehart, 70 tahun, adalah pengusaha tambang terkemuka di Australia. Ia mewarisi perusahaan pertambangan bijih besi milik ayahnya pada tahun 1992. Berdasarkan data Forbes, ia merupakan orang terkaya di Australia dan orang terkaya ke-56 di dunia dengan kekayaan lebih dari 30 miliar dolar AS.

Lukisan Kontroversial dalam Pameran Seni

Rinehart merupakan salah satu dari 21 orang berpengaruh di Australia yang dilukis oleh Vincent Namatjira dalam karya ‘Australia in Colour’ yang dibuat pada tahun 2021. Namatjira dikenal dengan gaya seni karikaturalnya, yang sering kali menonjolkan ciri khas subjek yang ia lukis.

Potret Gina Rinehart ditampilkan di Galeri Nasional Australia di Canberra sebagai bagian dari pameran besar pertama untuk seniman pemenang penghargaan ini. Dalam potret tersebut, Rinehart digambarkan dengan kulit pucat kemerahan, dahi besar, dan lipatan di bawah dagunya.

Permintaan Penghapusan Lukisan

Pada Mei 2024, Gina Rinehart secara pribadi meminta kepada NGA agar lukisan dirinya dihapus dari pameran. Permintaan ini kemudian diperkuat dengan desakan dari beberapa koleganya, termasuk atlet-atlet yang disponsori oleh perusahaannya, yang juga mengajukan keluhan ke NGA.

Sejak permintaan penghapusan tersebut muncul, potret Gina Rinehart karya Vincent Namatjira menjadi viral di internet. Lukisan itu mulai beredar luas dan bahkan ditampilkan di berbagai media internasional seperti Majalah Time, BBC, CNN, South China Morning Post, dan New York Post. Lukisan tersebut juga nyaris muncul di Times Square di New York City.

Galeri Nasional Australia Menolak Menghapus Lukisan

BACA JUGA:Rayakan Lebaran The Palace dan Lakuemas Ajak Berbagi THR Emas

Direktur Galeri Nasional Australia (NGA), Nick Mitzevich, mengatakan bahwa sejak berita ini mencuat ke publik, jumlah pengunjung galeri meningkat sebesar 24 persen. Artinya, kontroversi ini justru menarik perhatian publik dan meningkatkan minat terhadap pameran seni yang sedang berlangsung.

Meski banyak pihak yang menginginkan lukisan itu dihapus, NGA menolak untuk memindahkannya. Mereka menegaskan bahwa lukisan tersebut akan tetap dipajang hingga 21 Juli mendatang.

Dalam pernyataan resmi, NGA menegaskan bahwa karya seni ini merupakan bagian dari diskusi seni yang lebih luas dan harus dihargai:

“Sejak tahun 1973, ketika Galeri Nasional mengakuisisi Blue Poles karya Jackson Pollock, telah terjadi diskusi dinamis mengenai nilai artistik karya-karya dalam koleksi nasional, dan/atau yang dipamerkan di galeri. Kami mempersembahkan karya seni kepada publik Australia untuk menginspirasi orang-orang dalam mengeksplorasi, merasakan, dan belajar tentang seni.”

Reaksi Vincent Namatjira

Seniman Vincent Namatjira juga turut menanggapi kritik yang muncul terhadap karyanya. Ia menegaskan bahwa lukisan tersebut merupakan bagian dari gaya ekspresinya dalam melihat dunia.

“Saya melukis dunia seperti yang saya lihat,” ungkap Namatjira.

Sebagai seorang seniman Aborigin terkenal, Namatjira memang dikenal dengan karyanya yang berani dan sering kali

menyentuh tema-tema sosial, politik, serta pengaruh kekuasaan dalam masyarakat Australia.

Kontroversi Seni dan Kebebasan Ekspresi

Kasus ini menimbulkan perdebatan luas tentang seni dan kebebasan berekspresi.

Beberapa pihak berpendapat bahwa seni seharusnya bebas dari intervensi pihak luar, terutama oleh tokoh-tokoh yang dilukis, sementara yang lain merasa bahwa seorang individu berhak meminta penghapusan gambarnya jika merasa tidak nyaman.

Namun, dalam dunia seni, banyak karya yang memang bertujuan untuk menggugah pemikiran dan menantang persepsi publik.

Potret Gina Rinehart bukan sekadar lukisan, tetapi juga bagian dari diskusi yang lebih besar tentang peran dan pengaruh individu kaya dalam masyarakat.

Kesimpulan

Permintaan Gina Rinehart untuk menghapus lukisannya dari Galeri Nasional Australia tidak

dikabulkan, dan lukisan tersebut tetap akan dipajang hingga 21 Juli 2024. Meskipun banyak pihak yang mendukung keinginannya, pihak NGA tetap teguh dengan kebijakan mereka dalam menghargai kebebasan seni dan diskusi dinamis dalam dunia seni rupa.

Sementara itu, kontroversi ini justru membuat karya Vincent Namatjira semakin dikenal

secara global, membuktikan bahwa seni memiliki kekuatan untuk membentuk opini publik dan memicu perdebatan yang lebih luas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *